Blog Post

Implementasi Penyelarasan Kurikulum Bersama Kasubdit Kurev Direktorat Kementerian Agama RI

Implementasi Penyelarasan Kurikulum Bersama Kasubdit Kurev Direktorat Kementerian Agama RI

Purwokerto (Humas) – Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Kementerian Agama RI, Dr. Abdul Basit, S.Ag., M.M. dan Katim Bidang Kurikulum dan Evaluasi Kanwil Kemenag Provinsi Jateng H. Juair, S.Ag., M.M., M.Si.  berkesempatan menjadi nara sumber pada kegiatan Workshop Pengembangan Kurikulum di MAN 2 Banyumas, Sabtu (12/07).

Membuka acara, Kepala MAN 2 Banyumas H. Muhamad Siswanto menyampaikan ucapan selamat datang kepada nara sumber.

Siswanto berharap kegiatan tersebut mampu memberikan pemahaman intensif terkait implementasi kurikulum terbaru yang akan diberlakukan mulai tahun pelajaran 2025/2026.

“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyikapi perkembangan regulasi terkait implementasi kurikulum yang terus mengalami perbaikan oleh Kemendikdasmen dan Kementerian Agama,” jelas Siswanto.

Ucapan selamat dan sukses disampaikan oleh Katim Bidang Kurikulum dan Evaluasi Kanwil Kemenag Provinsi Jateng, Juair atas prestasi output peserta didik MAN 2 Banyumas yang diterima di perguruan tinggi tahun ini, prosentasenya naik pesat dibanding tahun sebelumnya.

“Salah satu indikator keberhasilan lembaga pendidikan adalah dilihat dari mutu lulusannya. Tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki nasib,” tambah Juair.

Lebih lanjut, Juair mengingatkan kepada guru-guru untuk bersedia mendampingi peserta didik saat mengikuti kompetisi seperti OSN/KSN dan lainnya.

“Memang Kompetisi tidak menjamin bahwa seseorang itu sukses namun dengan kompetisi, itu adalah media giat belajar peserta didik untuk tampil percaya diri, bersaing dan sebagainya,” ungkapnya.

Di sisi lain, Juair menghimbau kepada seluruh GTK untuk memberikan layanan yang ramah kepada peserta didik dan orang tua terutama ketika hadir di madrasah. Hal tersebut penting untuk mengantisipasi adanya aduan masyarakat (Dumas).

Juair juga juga menambahkan bahwa seiring meningkatnya kemampuan akademik peserta didik, penamaman karakter kekhasan madrasah seperti pembiasaan sehari-hari juga perlu dikembangkan. Hal tersebut justru lebih berkesan, selalu diingat dan menginspirasi di sepanjang hidupnya.

Adapun terkait pengembangan kurikulum baru-baru ini, Juair menyampaikan bahwa hakekat pengembangan kurikulum sebetulnya adalah memuliakan anak.

Kasubdit Kurev Direktorat KSKK Kementerian Agama RI, Abdul Basit turut mengingatkan bahwa perubahan adalah sunatulloh sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menolak.

“Adapun dasar pelaksanaan kurikulum terbaru yang akan dilaksanakan tahun ini di madrasah adalah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 dengan menambahkan Deep Learning dan KMA Nomor 450 Tahun 2024 dengan menambahkan Kurikulum Berbasis Cinta,” jelas Basit.

Basit mengungkapkan bahwa posisi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah sebagai jiwa (soul) dari seluruh penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran pada implementasi Kurikulum Nasional.

“KBC bukanlah pengganti kurikulum yang ada, melainkan sebuah insersi nilai-nilai cinta ke dalam proses pembelajaran yang sedang berjalan. Artinya, KBC tidak mengganti mata pelajaran atau materi yang sudah ada, tetapi menambahkan penekanan pada nilai-nilai cinta dalam cara guru mengajar dan siswa belajar,” tegas Basit.

Usai menyampaikan implementasi pengembangan kurikulum, Basit menghimbau kepada guru-guru untuk membangun komitmen kepada peserta didik, menanamkan matrikulasi di awal pembelajaran dan mengizinkan peserta didik untuk mencari referensi sumber belajar.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik, M. Irfangi, M.Pd. mengungkapkan bahwa kegiatan Workshop Pengembangan Kurikulum tersebut diikuti 95 guru yang dilaksanakan pada tanggal 11 dan 12 Juli 2025. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang menyenangkan dan dengan penjelasan materi yang mudah dicerna.

“Workshop Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan sosial, baik dalam konteks keagamaan, hubungan kemanusiaan, maupun keberagaman bangsa. Keberhasilan kurikulum ini tidak hanya akan diukur dari aspek kognitif, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku peserta didik,” ungkap Irfangi. (Mufi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Silahkan Chat
Assalamu`alaikum Wr.Wb